Individu pada Strata Kreatif (creative class) ini terlibat dalam pekerjaan yang memiliki fungsi untuk “menciptakan bentuk baru yang memiliki arti”

“Ekonomi kreatif yang mencakup industri kreatif, di berbagai negara di  dunia  saat  ini,  diyakini  dapat  memberikan  kontribusi  bagi perekonomian bangsanya secara signifikan. Indonesia pun mulai melihat bahwa berbagai subsektor dalam industri kreatif berpotensi untuk dikembangkan, karena Bangsa Indonesia memiliki sumber daya insani kreatif dan warisan budaya yang kaya.

Pondasi industri kreatif adalah sumber daya insani Indonesia yang merupakan elemen terpenting dalam industri kreatif . Keunikan industri kreatif yang menjadi ciri bagi hampir seluruh sektor industri yang terdapat dalam industri kreatif adalah peran sentral sumber daya insani sebagai modal insani dibandingkan faktor produksi lainnya. Untuk itu, pembangunan industri kreatif Indonesia yang kompetitif harus dilandasi oleh pembangunan SDM yang terampil, terlatih dan terberdayakan untuk menumbuhkembangkan pengetahuan dan kreatifitas. Pengetahuan dan kreatifitas inilah yang menjadi faktor produksi utama di dalam industri kreatif.

Individu pada Strata Kreatif (creative class) ini terlibat dalam pekerjaan yang memiliki fungsi untuk “menciptakan bentuk baru yang memiliki arti” (Richard Florida, The Rise of The Creative Class, New York, 2002). Strata di luar creative class adalah Strata Pekerja (working/service class). Pekerja pada strata ini rata-rata memiliki upah kecil, dan tidak memiliki otonomi dalam pekerjaannya. Keberadaan mereka sangat vital bagi creative class karena mendukung dalam menciptakan sesuatu yang baru sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat. Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih baik, proporsi individu dalam creative class harus jauh lebih besar daripada individu dalam working class. Untuk merubah proporsi tersebut, dibutuhkan keterlibatan triple helix (pemerintah, dunia industri, dan akademisi) untuk merancang sistem pendidikan baik melalui jalur formal dan informal yang mampu mengembangkan ekonomi kreatif yang berbasis pengetahuan (knowledge economy) secara signifikan.

Pilar utama model pengembangan ekonomi kreatif dibebankan pada 5 pilar utama yaitu : industry, technology, resources, institution, dan financial intermediary.”
(disarikan dari buku "Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2015")

kreawindo

Lestude merupakan lembaga swadaya masyarakat yang dimotori oleh generasi muda. Lestude dinaungi oleh CV. Kreatif Wirausaha Indonesia (Kreawindo) dengan Akta Notaris Roro Indradi Sarwo Indah,SH dengan No. 007/15 Januari 2011 NPWP : 31.271.526.1-526.000.

Departemen-departemen di Lestude merupakan unit-unit usaha ‘kaki lima’ yang diharapkan menjadi motor penggerak bagi pemberdayaan sumber daya insani yang akan mengembangkan ekonomi kreatif di kota Solo khususnya, dan bisa memotivasi generasi Indonesia pada umumnya untuk mewujudkan visi dan misi ekonomi kreatif Indonesia. Semoga...

No comments yet

Enter the Discussion and post your Comment